Author: mrizaldii

Teknologi Bahan dan Pengendalian Mutu: Beton Precast

stock_104Proses pencetakan beton dapat dibagi menjadi dua cara yaitu beton cast in situ dan beton precast (pracetak). Beton cast in situ merupakan beton yang langsung dicor atau di cetak pada lokasi elemen struktur yang direncanakan atau sering disebut beton cor di tempat. Sedangkan beton pre cast adalah elemen struktur beton yang dicor dan dirawat di lokasi lain, misalnya workshop atau pabrik, bukan di tempat elemen struktur beton itu akan dipasang. Setelah mencapai umur beton yang cukup, barulah beton precast dikirim ke lokasi pekerjaan dan dirakit / dirangkai. Proses pelaksanaan pemasangan / perangkaian dilakukan dengan menggunakan bantuan alat berat misalnya alat crane.

Beton precast memiliki beberapa keunggulan, diantaranya :

  1. Waktu pelaksanaan pekerjaan bisa lebih cepat, karena elemen bangunan yang tipikal bisa dikerjakan secara paralel sehingga setelah tiba di lokasi pekerjaan dapat segera dipasang.
  1. Lebih ekonomis karena tidak memerlukan bekisting di lokasi.
  2. Mutu lebih terjamin.
  3. Tidak terlalu terpengaruh kondisi cuaca dan kondisi lain di lapangan.

Namun pencetakan beton secara precast juga memiliki beberapa kekurangan, diantaranya :

  1. Memerlukan tambahan biaya transportasi yang cukup besar untuk membawa beton ke lokasi.
  2. Memerlukan alat berat dengan kapasitas yang relatif besar untuk pelaksanaan pemasangannya / perangkaiannya yang juga membutuhkan biaya cukup besar.
  3. Perlu perhatian khusus pada sambungan-sambungannya.
  4. Memerlukan lahan yang luas untuk proses produksinya.

Salah satu perusahaan yang memproduksi beton tipe pra cetak adalah WIKA. Minggu lalu kami berkesempatan mengunjungi pabrik beton tersebut, yaitu WIKA Beton dan WIKA Kobe (komponen beton) di Karawang. Dalam kunjungan kuliah lapangan ke WIKA Beton dan WIKA Kobe, kami dapat melihat mulai dari proses produksi hingga produk-produk beton precast. Secara umum tahapan pembuatan beton pracetak terdiri dari tahap desain, tahap produksi, dan tahap pascaproduksi.

Tahap desain yaitu tahap dimana beton direncanakan, jumlah, spesifikasi, dan lain-lain. Tahap ini dilakukan oleh desainer yang sudah merancang dimensi dan spesifikasi beton pracetak yang akan diproduksi. Pabrik beton seperti WIKA yang kami kunjungi hanya membuat sesuai yang sudah direncanakan oleh desainer, tentunya setelah disetujui konsultan dan pihak lainnya. Pada saat kunjungan kami ke WIKA Beton kemarin, salah satu customer nya adalah PT MRT yang memerlukan produk beton pracetak untuk bagian Tunnel. Cetakan yang digunakan untuk proyek MRT ini membutuhkan ketelitian yang sangat tinggi, yaitu hingga ± 2 mm. Jika lebih besar dari 2 mm, maka cetakan tersebut tidak dapat digunakan. Cetakan yang digunakan untuk proyek MRT ini terbagi menjadi 3 jenis yaitu Tipe S, Tipe TL (tempered left), dan Tipe TR (tempered right).

Proses produksi dari beton pracetak yang digunakan untuk proyek MRT dilakukan proses pengecoran per segmen. Dalam 1 ring terdapat 6 segmen, yang terdiri dari 5 segmen besar dan 1 segmen kecil. Masing-masing segmen kemudian dapat dipasang menggunakan baut. Pada proses produksi, besi yang datang masih dalam dimensi yang panjang. Besi ini kemudian di-bending dan dipotong dengan presisi ± 2 mm.  Cetakan yang digunakan dalam proses produksi beton pracetak ini dapat digunakan berkali-kali, namun harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum dapat digunakan kembali. Untuk proyek MRT ini, terdapat 30 cetakan yang digunakan. Proses vibrasi pada proses produksi beton pracetak ini ada dua jenis, yaitu vibrasi eksternal dan vibrasi internal. Untuk vibrasi internal, biasanya alat vibratornya sudah satu paket dengan cetakan/ bekistingnya. Setelah proses pengecoran, dibutuhkan waktu 12 jam sebelum bekisting yang digunakan dapat dibuka. Sebagai informasi, produksi di pabrik WIKA Beton ini dilakukan 24jam/ hari, tentunya dengan adanya shift pekerja.

Proses selanjutnya setelah pengecoran adalah proses perawatan atau curing yang dilakukan dalam curing compound. Proses curing ini memakan waktu 7 hari, sebelum beton dapat diangkat dari curing compound. Sebelumnya dalam proses pengecoran, dilakukan quality control sehingga hasil produksi sesuai dengan gambar kerja. Dilakukan pengecekan mutu beton dengan menggunakan sampel silinder. Silinder yang di ambil sebanyak 3 buah untuk tiap segmen. Pengecekan beton tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan hammer test untuk dapat memastikan kekuatan dari beton yang telah diproduksi sesuai dengan yang diinginkan. Beton dikirim ke lokasi pada saat kekuatan beton mencapai 100%, biasanya setelah 14 hari. Untuk beton pracetak yang digunakan untuk proyek MRT, pengiriman dilakukan per 2 ring.

Dalam kunjungan kuliah lapangan kemarin, kami juga ditunjukkan segmen untuk Tunnel MRT yang sudah jadi atau terpasang menjadi ring. Segmen tersebut di sambung menggunakan baut. Karena itu pada tiap segmen dapat kita lihat dengan mudah terdapat dua lubang. Lubang ditengah dan lubang dipinggir. Lubang yang di pinggir digunakan untuk penyambungan dengan baut ke segmen lain, sedangkan lubang yang di tengah digunakan ketika segmen diangkat dengan alat. Lubang di tengah ini nantinya akan ditutup kembali.

Selain produk beton berupa segmen ring tunnel Proyek MRT kami juga melihat produk lain berupa box girder dengan berbagai macam ukuran. Produk precast lainnya berupa pile dan lain-lain.